Bercik-bercik tawa melarikan sebuah gundukan yang terselip dalam keheningan kelabu. Sepertinya malam akan menuai cinta dalam keagungan embun pagi yang akan menyapanya kala rintihan doa telah memeluk dengan sayapnya yang hening.
Terseok-seok menalari kubangan semu yang selalu hendak bercengkerama bersama riuh kebodohan.
Ini bukan tentang dilemanya sebuah wewangian asmara namun ikatannya selalu berulah di tengah lukisan monalisa yang dingin dan tinggi.
Aku ingin berjabat dengan perasaan para makhluk pecinta tentang seonggok prolog dan menganakkan keliaran yang bersuka akan suara-suara bebatuan.
Ku mohon sejenak saja duduk di atas ayunan putih agar titik-titik warnaku beranalogus indah dan kau pun membelalak penuh kesayuan kasih.
Tak sudi bila segerombolan budak peri mengadu pojok khayalku dengan cerita sudut nyata.
*Sebuah perasaan saat aku dalam dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar