Selasa, 12 April 2011

Mulai Gila

Tergeletak di ranah pincang.
Sungguh sunyi bermata belati.
Ia semakin mengkhayal dengan anggunnya.
Ia tertawa dengan darah di mulutnya.
Bahkan ia berkata tentang pagi tanpa matahari.
Seandainya dingin tak harus perih.
Mungkin sepotong jiwa akan tetap utuh.
Tak harus berpendar melupakan nafas lain.
Apa yang ia fikirkan akan jadi bom waktu.
Melamunkan yang kosong dan mengisikan yang esensi.
Berlaku bijak meski tanpa rasa.
Kini malam bersanding dengan matahari.
Senyum palsu perlahan kubur meski tersisa tetesannya.
Setidaknya ia mampu keluar dari kelamnya sepi dengan menjadikan senyap sahabatnya.
Dan mulailah ia gila bersama unsur lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar