Benar-benar menikmati kematian jiwa.
Lihat,
di pojok hihup ada sebuah kotak yang terus berdetak.
Aku masuk dan terjebak dalam lautan hijau penuh duri.
Aku mau keluar dan semuanya akan benar-benar dingin.
Namun disinilah tempatku berujar nafas.
Bersama kaki yang setengah diam.
Bersama mata yang setengah tidur.
Bersama tangan yang setengah bisu.
Bersama otak yang setengah gila.
Tetap ku menari meski dengan nada sumbang.
Tetap ku melangkah meski lumpuh.
Tetap ku pandangkan dengan harap angin tak sekedar mampir.
Percaya,
semua akan ku kukalahkan dengan sisa senapan di dadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar