Tergeletak di ranah pincang.
Sungguh sunyi bermata belati.
Ia semakin mengkhayal dengan anggunnya.
Ia tertawa dengan darah di mulutnya.
Bahkan ia berkata tentang pagi tanpa matahari.
Seandainya dingin tak harus perih.
Mungkin sepotong jiwa akan tetap utuh.
Tak harus berpendar melupakan nafas lain.
Apa yang ia fikirkan akan jadi bom waktu.
Melamunkan yang kosong dan mengisikan yang esensi.
Berlaku bijak meski tanpa rasa.
Kini malam bersanding dengan matahari.
Senyum palsu perlahan kubur meski tersisa tetesannya.
Setidaknya ia mampu keluar dari kelamnya sepi dengan menjadikan senyap sahabatnya.
Dan mulailah ia gila bersama unsur lain.
Selasa, 12 April 2011
Sabtu, 09 April 2011
Lukisan Cerita Abstrak Nyata
Hari ini sungguh campur aduk. Bagaikan lukisan abstrak penuh warna tak berpola. Pagi hari dimulai dengan harapan. Siang beranjak bersama waktu yang terus berlari. Aku terlalu asyik berkencan dengan tugas kuliah hingga tak kusadari matahari sudah di atasku. Aku pikir akan terjadi sebuah drama persahabatan yang menyenangkan. Ternyata salah. Sediki kecewa karena aku dilupakan. Biarlah aku tetap dengan adanya aku. Semua akan baik-baik saja.
Lalu sebuah cerita lain menyisip benakku. Otak ini seperti teracuni. Mungkin sebenarnya berdarah manis. Hanya saja aku tak mau hiperbola.
Mungkin hanya itu yang bisa aku ceritakan. Ada sebuah rasa yang terasa nikmat jika hanya aku yang tahu. ^_^ Annyeong....
Aku, Kamu, dan Dia
Kau ada.
Dan aku disini.
Kini angin menggodaku dengan warna.
Namun aku diam.
Mendengar dengan mata dan melihat dengan telinga.
Rasakan jauh di sana.
Aku pun melihatnya.
Dia belum menyentuhku dan menghidupkan dingin ini.
Kau dan dia memecah susunan matiku.
Kau berkata sayang dan dia berkata ya.
Entah kenapa teriakanku tetap tenang meski syaraf hatiku sangat gila.
Aku ingin kau namun dia tetap disana.
Mungkinkah jiwaku benar benar mati?
Ku harap dia cepat menemukan malamku agar aku benar berada dalam kisahmu.
Karena sungguh aku ingin hidup dengan nafasmu.
Dan aku disini.
Kini angin menggodaku dengan warna.
Namun aku diam.
Mendengar dengan mata dan melihat dengan telinga.
Rasakan jauh di sana.
Aku pun melihatnya.
Dia belum menyentuhku dan menghidupkan dingin ini.
Kau dan dia memecah susunan matiku.
Kau berkata sayang dan dia berkata ya.
Entah kenapa teriakanku tetap tenang meski syaraf hatiku sangat gila.
Aku ingin kau namun dia tetap disana.
Mungkinkah jiwaku benar benar mati?
Ku harap dia cepat menemukan malamku agar aku benar berada dalam kisahmu.
Karena sungguh aku ingin hidup dengan nafasmu.
Senin, 04 April 2011
Memeluk Malamku
Aku ingin kau memeluk malamku
dan menyingkap kebisuan dengan wewangianmu.
Ku mohon dengarkanlah.
Saat ini hanya kau yang berlari menitiki tiap bait kisahku.
Cepatlah bergegas, cukup dengan satu bunga.
Sabtu, 02 April 2011
Kematian Jiwa
Benar-benar menikmati kematian jiwa.
Lihat,
di pojok hihup ada sebuah kotak yang terus berdetak.
Aku masuk dan terjebak dalam lautan hijau penuh duri.
Aku mau keluar dan semuanya akan benar-benar dingin.
Namun disinilah tempatku berujar nafas.
Bersama kaki yang setengah diam.
Bersama mata yang setengah tidur.
Bersama tangan yang setengah bisu.
Bersama otak yang setengah gila.
Tetap ku menari meski dengan nada sumbang.
Tetap ku melangkah meski lumpuh.
Tetap ku pandangkan dengan harap angin tak sekedar mampir.
Percaya,
semua akan ku kukalahkan dengan sisa senapan di dadaku.
Lihat,
di pojok hihup ada sebuah kotak yang terus berdetak.
Aku masuk dan terjebak dalam lautan hijau penuh duri.
Aku mau keluar dan semuanya akan benar-benar dingin.
Namun disinilah tempatku berujar nafas.
Bersama kaki yang setengah diam.
Bersama mata yang setengah tidur.
Bersama tangan yang setengah bisu.
Bersama otak yang setengah gila.
Tetap ku menari meski dengan nada sumbang.
Tetap ku melangkah meski lumpuh.
Tetap ku pandangkan dengan harap angin tak sekedar mampir.
Percaya,
semua akan ku kukalahkan dengan sisa senapan di dadaku.
Langganan:
Postingan (Atom)