Minggu, 24 November 2013

Sebuah Tempat Yang Disebut Rumah



Malam, aku ingin menceritakan sesuatu. Cerita tentang seorang gadis yang memilih sendirian. Dia berkepribadian introvert. Tidak mampu bersikap terbuka dengan orang lain. Bukan pribadi yang murah senyum, ramah dan juga tidak mudah bergaul. Dia memang jarang bicara dan lebih bersikap dingin dengan orang lain. Dia memang memilih sendirian hanya untuk bersama dirinya sendiri. Meskipun dia nyaman dengan dirinya sendiri, ada kalanya dia ingin bersama orang lain. Karena hakikatnya manusia tidak hanya diciptakan sebagai makhluk individu namun juga sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dan membutuhkan orang lain.


Saat-saat dia bertemu dengan orang-orang itu. Mereka yang melihat keberadaannya. Mereka datang silih berganti. Mereka yang membuat ia berpaling dari dirinya sendiri. Ada yang ingin mendengar dia bercerita. Ada yang ingin membuat ia bisa bicara. Ada yang ingin melihat dia tersenyum. Ada yang senang melihat dia tertawa terbahak-bahak. Ada yang ingin melihat dia selalu ceria.  Ada yang ingin selalu bersamanya.

Mereka membuat dia merasa berarti. Saat membayangkan mereka, seandainya mereka tahu kalau dia sungguh berterima kasih karena telah hadir dalam fase hidupnya. Meski akhirnya mereka pun tak ada disini lagi. Bukan, bukan berarti semuanya telah pergi. Ada yang masih disini dan berharap akan selalu disini. Baginya mereka adalah rumah kedua. Rumah terdekat saat dia jauh dari orang tua.

Saat kesedihan datang, berbagai masalah hadir, kesepian mendera, dan merasa jenuh. Rumah adalah tempat terbaik. Sebuah tempat yang mau menerima kita apa adanya. Tempat yang selalu membuat kita kembali. Rumah akan selalu menerima kita. Rumah memiliki pintu yang selalu terbuka untuk kita. Karena rumah selalu menunggu kita kembali sejauh mana pun kita pergi.

Aku ingin menjadi rumah bagimu karena bagiku kau adalah rumahku.

4 komentar: