Aku baik2 saja saat tak ada siapapun. Aku menikmati saat sendirian. Sendiri bukan berarti kesepian. Sendiri adalah bagian dari jiwaku. Aku nyaman saat sendirian. Saat orang2 tak melihatku tertawa. Saat mereka tak mendengar tangisku. Aku tak ingin mereka tahu apa yang sedang aku lakukan. Bahkan saat duduk pun, pintu aku tutup.
Mungkin tidak untuk semua orang. Saat seseorang datang. Mulai melihat keberadaanku. Mencoba mendengar kediamanku. Dia terus melangkah ke depan pintu dan mengintip dari sela jendela. Mencoba datang agar lebih dekat dengan mataku. Lalu mengetuk pintuku yang tak berbunyi. Ku bilang, silahkan masuk jika kau punya kuncinya. Aku mempersilahkannya jika memiliki sebuah kunci itu. Kunci yang aku pun tak tahu bentuknya. Kunci yang hanya dimiliki oleh orang selain aku. Kunci yang aku tak tahu dimana harus didapatkan. Aku benar2 tak mengetahuinya.
Saat dia mulai masuk dan melihat senyumku, ku beri dia satu tanda dihatiku. Dia begitu istimewa. Tidak, adakah kata yang lebih dari istimewa? Istimewanya istimewa. Tidak, masih belum cukup. Sampai yang bisa aku lakukan adalah mulai mengukir namanya disini. Kau begitu berharga. Kau hebat.
Aku memang menghindar untuk berkomunikasi dengan orang lain kecuali benar2 penting. Aku bukan orang yang ramah. Apalagi basa basi. Bertemu orang asing lebih menyenangkan dibanding harus bertemu dengan orang yang sekedar kenal. Seandainya bertemu lalu aku harus tersenyum. Sudah ku lakukan. Lalu aku hanya diam. Hari berlalu, kemudian aku mendengar seseorang yang kebetulan bertemu denganku waktu itu berkomentar tentangku bahwa aku hanya diam saat dengannya. Aku mendengar cerita itu dari temannya. Aku memang hanya diam saat bersama orang lain meskipun status kita adalah teman. Aku sungguh tak tahu harus bicara apa. Otakku berpikir dan hasilnya adalah diam.
Aku tidak selalu diam. Ada saatnya aku banyak bicara. Saat membahas tentang kesukaan dan saat bersama seseorang yang bisa membuatku bicara. Tanpa berpikir keras aku berbicara banyak hal. Tanpa berpikir apa topiknya, aku yang lain datang. Banyak bicara, memulai pembicaraan bahkan cerewet. Saat itulah aku merasa aku punya diriku yang lain. Hanya orang2 tertentu yang dapat melihatku seperti itu. Dia adalah bagian terpenting dihidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar