Pagi
hari ini kubuka dengan senyuman. Teringat kata-kata dari seorang yang bijak
untuk selalu memulai pagi dengan tersenyum. Kemudian aku mendengar seorang
penyanyi di televisi berkata hal yang sama, pagi-pagi harus tersenyum. Senyuman
di awal hari memang baik. Namun tak selalu berpengaruh bagiku. Senyuman yang
kupasang di bibir hanya sebagai penenang kegelisahan semalam. Aku sedang
menenangkan diriku sendiri. Menyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
Ku nikmati
hari yang mulai beranjak siang. Semakin lama perasaanku semakin tipis. Seperti balon
yang kehilangan udara. Aku lemas, merasakan sesuatu yang sebenarnya tak
kurasakan. Seperti kehilangan arah. Ku dekatkan hatiku pada-Nya. Ku tuturkan
apa yang terjadi dalam diri ini yang sejujurnya aku pun tak mengerti. Ku ceritakan
saja karena Dia selalu mendengarku. Dia selalu tahu apa yang ku rasakan. Hanya
kepada-Nya aku akan merasa tenang.
Waktu
mulai malam. Hati ini kembali bingung dan buta. Bodoh, aku telah menunda waktu
shalatku karena meneteskan cairan dari mataku. Segera aku sadar dan
menghadap-Nya. Ku uraikan lagi rasaku pada-Nya. Senyumku mulai kembali. Selain kepada-Nya,
aku juga ingin mencurahkan rasa ini dengan orang-orang yang paling aku sayangi.
Merasakan lagi hangatnya pelukanmu Ibu. Andai kau tahu, saat aku duduk
disampingmu, aku ingin sekali mendekapmu. Berada didekapanmu seperti saat aku
kecil dulu. Sayangnya aku tak berani, aku hanya membayangkan dan segera ku
buang anganku.
Perasaan
aneh ini sedikit terobati. Kulihat senyuman dari sepupu-sepupu kecilku. Mereka dengan
antusias menceritakan pengalaman liburan ke Bandung. Aku pun tersenyum
mengikuti alunan kebahagiaan mereka yang polos. Kadang aku ingin kembali kecil
lagi. Bermain sepuasku tanpa beban. Tanpa tugas kuliah yang selalu membayangi. Tanpa
tekanan dari orang-orang disekitarku. Aku ingin bebas dan lepas.
Aku
tahu, Dia lah pemilik sebenarnya diri ini. Dia menitipkan jiwa kecil ini pada
kedua orangtuaku. Hanya kepada Dia serta mama dan bapak aku merasa tenang. Dari
ocehan mereka yang membuatku tertekan. Dari kecewa yang seseorang berikan
padaku. Dari sakit yang aku buat sendiri. Dari kegundahan tak beralasan. Dari pikiran
negatif yang tak pernah terjadi.
Terakhir,
aku mulai tahu kenapa hari ini begitu kusut. Cukup Dia dan aku yang tahu
kebenaran hati ini.
:D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar